Kelana Sendiri
Sedalam ceruk bilik ini, berkibarlah tanda yang mengarah hujan yang tak biasanya. dua mata menggenangi engkau, basahnya tak mau punah. sampai ia membeku pada malam-malam yang pincang. Gelap begitu lumpuh, dan kita bukan lagi saudagar cahaya yang menjinjing lentera pada setapak jalan itu. Maka telah kusiasati, pada akhirnya kita akan dipaksa merajah peta pada kelana sendiri. melebarkan skala hidup, agar bahasa jauh kita hilang menenggelamkan segala ingatan.




