Sendiri

Lembar demi lembar mengalir alkisah.
hanya sepenggal kalimat singkat, 
memberi suara kepada gelap yang tuna wicara.

Ujung ujung tintaku sedang menulis .
kisah-kisah kosong teruntai dalam spasinya.

Lantas sejak kau terbangun dari tadi ,
aksara-aksara segera kubangkit.
sajak-sajak kuraup dalam hamparan permadani.

Duhai perempuan yang puisi.
Engkau yang berkaca terbalik, 
berhias diantara cermin yang pantulannya masa kini.


Tersenyumlah dengan manis, 
seperti gambaran sang ratu yang  mengenakan gaun indah terurai. 
dalam kilau rambut,
Serta mahkota yang sedang mengikat-ikat erat.

Menarilah dalam tarian kalbu yang kau sembunyikan.
sesungguhnya ketiadaan itu teman karib.
tidak ada camera sebagai benda hidup yangmemotret heningmu.

Kau menerangi sendiri sepercik kobaran api.
nyalanya, nyatanya seperti selendang sutra yang membalut dadamu. 
lembut, membahasakan suara-suara bahagia.

Mainkan peran simfonimu, dik.
bagiku, tungku masih mematangkan usiamu.
diritme perjalanan.

Kau kini tak lagi sendiri, 
ruang sekolah tak pernah lupa pada guru yang kelak memberi rangking dirapormu.

Hingga suatu saat, 
syaf-syaf menemui jalan kiblatnya. 
setelah bilal menggaungkan sabda.
dan begitulah kidung-kidung memanggil hatimu dalam gema kubah.

Kehampaan sebuah mihrab pun terisi.
senjanya bukan lagi melankolia,
tapi memanusiakan manusia.
memberi jinggga pada sebuah langkah.
teranglah terang dalam keheningan. 
tenanglah tenang gemuruhmu.

Kesepian sudah kau tamati.
dongeng-dongeng hidup menemui cerita-cerita sesungguhnya.
semushaf puisi ini menutupi sampul kitab.

Hijabkanlah keteguhanmu, dik
Untuk sebuah hijrah yang menata rindu-rindu yang patah.

Komentar

Postingan Populer