Anak-Anak Negeri

Dari jalanmu,
Ada guguran redup,
Ada pula setetes terang
antara huruf-huruf hidup menggantungi sang bintang didada.
Adakah nak,
hangat itu kau peluk gulitamu?
Bergelut diteras redup,
kemudian matahari kau tunggu diperadaban.
Adakah nak,
kegagalan selalu kau jurang, lantas kabut-kabut tercampakan disana?

Bangkitlah,
jahitlah,
lukaluka itu asing dalam ramahnya badai.
Persis kini kau daki puncak yang tinggi,
menyisir jalan kembali,
antara pandanganmu yang gelap dan buta aksara.
Maka titislah kihajar dewantara dihatimu,
Menjadi mata pena jingga, yang terus memaraf jiwa-jiwa prestasimu.

Komentar

Postingan Populer